Setelah jeda beberapa pekan, lomba ini kembali dengan format sedikit berbeda. Kali ini peserta tak dibatasi membuat ulasan hanya berdasarkan film yang ditayangkan dalam program Belajar dari Rumah TVRI. Peserta dapat mengulas film Indonesia apa saja yang disaksikan lewat saluran resmi, baik itu bioskop, layanan streaming, maupun festival film.

 

Sesuai perkiraan, format baru ini membuat jumlah peserta melonjak. Panitia menyerahkan daftar berisi 78 karya untuk kategori umum. Judul-judul yang diulas pun amat beragam. Selain film yang sedang atau pernah populer di bioskop, seperti Laskar Pelangi, Dua Garis Biru, atau Hiruk Pikuk si Alkisah, muncul pula ulasan atas film-film yang barangkali hanya diputar terbatas di komunitas atau festival seperti You and I oleh Fanny Chotimah dan Sebelum Berangkat oleh Dirmawan Hatta.

 

Dari segi demografi, asal daerah peserta lomba ini nampak semakin beragam. Selain dari kota-kota di Pulau Jawa, muncul juga peserta yang berasal dari Binjai hingga Adonara. Kemunculan ini dapat dibaca sebagai semakin bergairahnya semangat menonton dan mengulas film yang tak hanya terpusat di Pulau Jawa.

 

Meski jumlah peserta meningkat, kualitas karya masih jalan di tempat. Sebagian besar karya yang menarik perhatian juri dibuat oleh peserta yang pernah menang (bahkan beberapa kali) sebelumnya. Sementara itu, nama-nama baru masih berkutat pada jebakan ulasan yang hanya menceritakan kembali plot film, lalu sedikit berkomentar tentang akting pemerannya.

 

Pengulas yang membahas unsur-unsur sinematik lainnya (sinematografi, editing, suara, mise-en-scene) masih terhitung jarang. Bisa jadi karena pilihan film-film yang diulas memang tidak menyediakan kekhususan pada unsur-unsur tersebut dan menumpukan pergerakan dramatik ‘hanya’ pada cerita dan akting. Bisa juga karena habit menonton para pengulas (dan sebagian besar penonton pada umumnya) masih terpusat pada mencari cerita—menonton ‘cerita’, bukan menonton film. Kecenderungan-kecenderungan ini perlu dicatat untuk pengembangan program Lomba Ulas Film ke depannya, setidak-tidaknya untuk terus memperluas program dengan lokakarya atau forum diskusi perihal apresiasi dan kritik film.

 

Di sisi lain, ada juga peserta yang kentara telah melengkapi dirinya dengan pengetahuan terkait teori dan teknik mengulas film. Perkembangan tersebut tercermin melalui bahasan yang lebih peka terhadap ungkapan sinematik dan konteks karya pada sejumlah naskah. Sebagian, juri menduga, adalah peserta seri webinar ulasan film yang beberapa waktu lalu digelar oleh Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru. Juri menghargai kemauan belajar ini dan mendorong peserta untuk terus meningkatkan kualitas karya dengan rutin menuangkan pandangan kritis tentang film yang baru ditonton lewat tulisan.

 

Perlu dicatat juga ada sejumlah peserta menerbitkan ulasannya melalui kanal atau media komunitas. Dalam banyak hal, skala operasional media komunitas jelas tidak bisa disamakan dengan institusi atau perusahaan media pada umumnya, tapi bisa dipastikan ada proses editorial—sesederhana apapun itu—yang turut berdampak terhadap isi atau kualitas ulasan yang terbit. Setidak-tidaknya, ulasan yang terbit turut diproses dengan mata dan pikiran selain dari penulisnya. Bisa diprediksi ulasan-ulasan tersebut memiliki kedalaman atau ketajaman tersendiri dibanding ulasan-ulasan yang diterbitkan secara mandiri—beberapa di antaranya turut menjadi pemenang pada kloter ini. Hal ini setidak-tidaknya bisa dicatat sebagai nilai plus, bahwasanya Lomba Ulas Film turut mendorong kegiatan di lingkar media komunitas. Ke depannya, catatan ini bisa jadi pertimbangan untuk pengembangan program Lomba Ulas Film.

Catatan khusus untuk karya-karya di Instagram, juri mengamati bahwa format mengunggah tulisan dalam bentuk beberapa slide gambar jarang sekali berhasil membuat juri terpikat. Begitu pula dengan format IGTV yang hanya menampilkan peserta berbicara panjang-lebar di depan kamera tanpa menyelipkan bantuan visual lainnya. Mengingat Instagram termasuk salah satu media sosial yang paling banyak digunakan saat ini (52 dari 78 karya diunggah lewat Instagram), besar sekali peluang untuk membuat ulasan film yang menarik perhatian asalkan dapat mengenali karakteristik unik platform ini. Peserta dapat mengacu pada strategi sejumlah akun ulasan film di Instagram yang telah mapan dan menarik banyak pengikut.

 

 

Karya pilihan juri:

 

  1. No. Urut: 2

Nama peserta: Edo Ricky

Judul: Dua Garis Biru: Film yang Patut Ditonton Remaja

Tautan: https://dooorick.blogspot.com/2020/12/review-film-dua-garis-biru-film-yang.html?m=1

 

  1. No. Urut: 10

Nama peserta: Dwiki Aprinaldi

Judul: The Science of Fictions: Kesaksian Sejarah yang Liyan

Tautan: https://cinemapoetica.com/the-science-of-fictions-kesaksian-sejarah-yang-liyan/

 

 

  1. No. Urut: 13

Nama peserta: Ardian Agil Waskito

Judul: Simulakra Siman: Mencari yang Fiksi dalam “Hiruk Pikuk si Al Kisah”

Tautan: https://ardian-agil.medium.com/simulakra-siman-86c0792529ab

 

 

  1. No. Urut: 15

Nama peserta: Susana Devi Anggasari

Judul: Athirah: Simbol Kemenangan Wanita dalam Budaya Patriarki

Tautan: https://www.susanadevi.com/2020/12/athirah-simbol-kemenangan-wanita-dalam.html

 

 

  1. No. Urut: 16

Nama peserta: Rizky Alana Putra

Judul: Yang Nyata Yang Dikesampingkan

Tautan: https://cinemalinea.wordpress.com/2020/12/26/yang-nyata-yang-dikesampingkan/

 

 

  1. No. Urut: 18

Nama peserta: Noval Kurniadi

Judul: Mengulas Makna Puisi “Efata” dalam Film “Sebelum Berangkat”

Tautan: https://www.valandstories.com/2020/12/film-sebelum-berangkat.html?m=1

 

 

  1. No. Urut: IG22

Nama peserta: Achmad Hambali

Judul: Guru-Guru Gokil yang Tak Tahu Gokilnya di Mana

Tautan: https://www.instagram.com/tv/CJM2EKcBTtb/?utm_source=ig_web_copy_link

 

 

  1. No. Urut: 25

Nama peserta: Deda Ibrahim

Judul: Penokohan yang Stereotipikal dalam Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan

Tautan: https://www.facebook.com/deda.eksa/posts/10223897346212470

 

Tertanda,

 

Adrian Jonathan Pasaribu

Moyang Kasih

Panji Wibowo